Dinas Pendidikan Bogor Katakan Prokes PTM Kesiapan Kurikulum

  • Dinas Pendidikan Kota Bogor memastikan kesiapannya menjelang pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas (PTM) yang telah dikukuhkan dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri.

Kesiapan tersebut diungkapkan Dinas Pendidikan Kota Bogor melalui Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor Hanafi dalam dialog Fortadikbud di Bogor pada Sabtu, 17 April 2021.

“Kami sedang mempersiapkan secara detail kemungkinan yang akan muncul.

Dari rumah ke sekolah, dari pamit ke rumah, di kelas hingga pulang,” kata Hanafi. Dijelaskannya, sebanyak 20 SMPN perlu dipiloti bersama 17 SMP swasta.

Hanafi mengatakan, PTM ini sangat dinanti banyak pihak, sehingga pihaknya secara khusus melakukan persiapan teknis terkait protokol kesehatan dalam kurikulum.

“Rencana itu akan dilaksanakan pada April selama disetujui oleh kepala daerah melalui Foum Muspida.

Semua sekolah siap memperkenalkan PTM ini,” ujarnya.

Baca Juga: Global Jaya School Sukses Belajar dari Rumah Selama PYY dan Kini Siap Belajar Tatap Muka

Dapatkan informasi, inspirasi, dan wawasan di email Anda.
email pendaftaran
Dari proses ke kurikulum

Selain itu, Hanafi mengatakan saat ini 5.851 guru dan tenaga kependidikan di Kota Bogor, Jawa Barat telah menerima vaksin Covid-19. Itu adalah 77,5 persen dari total 7.551 guru dan pendidik di Bogor.

Menurut Hanafi, angka tersebut menunjukkan Kota Bogor sedang bersiap menghadapi Limited Personal Learning (PTM).

Tentu tetap mengacu pada Surat Keputusan Bersama (SKB) keempat kementerian tersebut.

“Selain kemauan, checklist dan protokol kesehatan, yang juga penting. Disdik dan sekolah meminta izin kepada orang tua untuk mengikuti PTM. Kami tidak memaksa anak-anak untuk sekolah,” imbuhnya.

“Kami minta izin kepada orang tua anak tersebut (untuk) PTM. Kalau tidak ada, tidak akan dilaksanakan,” tegasnya lagi. Kadisdik Bogor mengingatkan orang tua untuk tidak memaksa anak ke sekolah jika anak tidak mampu.

DPRD Kota Bogor juga sedang menyiapkan kurikulum yang nantinya akan digunakan di PTM terbatas. Prinsipnya, tambah Hanafi, kurikulum yang disajikan hanyalah kurikulum yang benar-benar dibutuhkan untuk persiapan ke jenjang selanjutnya dan tidak membebani siswa, seperti yang disarankan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim.

“Materi-materi penting yang nantinya akan menjadi bahan anda untuk naik ke jenjang selanjutnya atau lulus dari sekolah,” imbuhnya.

Selain itu, Hanafi mengatakan, alternatif PTM terbatas pada pergantian tatap muka dan PJJ.

“Alternatifnya adalah 50 persen harian dan 50 persen PYY mingguan. Dengan asumsi seminggu, kami mendapatkan informasi yang cukup ada paparan atau tidak,” jelas Hanafi.

Ia juga menyatakan bahwa masih ada pembatasan pada jenjang pendidikan awal. “Yang tidak saya rekomendasikan adalah TK dan PAUD, serta SD kelas satu, 2 dan 3,” katanya.

LIHAT JUGA :

https://indi4.id/
https://connectindonesia.id/
https://nahdlatululama.id/
https://www.bankjabarbanten.co.id/
https://ipc-hm2020.id/
https://sinergimahadataui.id/